Lo pernah nanya ke anak lo yang lagi belajar di SMA? “Kalian lagi belajar apa, sayang?” Terus dia jawab, “Menghapal struktur birokrasi kolonial, Bu.” Atau, “Ngerjain soal cerita tentang koperasi, Pak.” Bukan itu pelajarannya jelek. Tapi coba lo tanya balik: kerjaan apa di luar sana yang butuh spesialis hafalan struktur kolonial? Atau siapa yang masih pakai sistem buku kas koperasi manual?
Ini bukan salah guru. Bukan salah sekolah. Ini kegagalan sistemik. Kurikulum usang di 2026 ini seperti peta tua untuk kota yang sudah rata dibangun ulang. Data dari Global Education Gap Index 2025 bilang, rata-rata waktu yang dibutuhkan sistem pendidikan formal di negara berkembang untuk memperbarui kurikulum intinya adalah 7-10 tahun. Sementara, menurut penelitian yang sama, 65% pekerjaan dasar yang akan diisi anak SD hari ini belum ada. Mereka disiapkan untuk pekerjaan yang sudah tidak ada.
Analisis: Birokrasi yang Membekukan Waktu
Masalahnya bukan cuma pelajaran hafalan. Tapi sistem yang dirancang untuk abadi dalam era yang berubah setiap 18 bulan.
- Kasus “Informatika” yang Mengajarkan Software yang Sudah Punah: Di banyak sekolah, pelajaran TIK/Informatika masih mengajarkan Microsoft Word 2010 dan Excel dasar. Sementara di dunia nyata, pekerjaan membutuhkan kemampuan data literacy (mengolah data dengan tools seperti Airtable atau Sheets), memahami basic AI prompt, atau menggunakan software kolaborasi seperti Notion. Tapi, untuk mengubah buku panduan dan melatih guru? Butuh persetujuan dari pusat, lelang percetakan, pelatihan berjenjang. Prosesnya bisa 5 tahun. Pada saat buku baru sampai, materinya sudah usang lagi. Siklus pembaruan kurikulum kalah telak dibanding siklus disruptif teknologi.
- Mitos “Ujian Nasional” sebagai Penguasa Kurikulum: Meski UN sudah dihapus, semangatnya hidup dalam bentuk Asesmen Kompetensi Minimum dan ujian-ujian standar lainnya. Sekolah dan guru akhirnya mengajar untuk lulus ujian, bukan untuk mempersiapkan hidup. Kalau ujiannya masih berkutat pada penalaran matematika dasar dan membaca, ya fokusnya di situ. Sementara kompetensi seperti critical thinking kompleks, kreativitas, atau kolaborasi lintas bidang—yang justru paling dibutuhkan—sulit diukur dalam lembar jawaban komputer. Jadi, tetap diabaikan. Sistemnya menghukum inovasi.
- Guru yang Terjepit antara Tuntutan Zaman dan “Jam Mengajar Wajib”: Seorang guru SMA yang visionary mau ajarkan kelas tentang digital citizenship atau cara mengecek hoaks AI. Tapi dia punya beban 24 jam mengajar seminggu, harus ikuti kurikulum ketat, plus urus administrasi. Kapan waktu dan energinya untuk belajar hal baru lalu mengajarkannya? Sistem memforsir guru pada delivery konten lama, bukan pada pengembangan kompetensi baru. Mekanisme perubahan kurikulum yang kaku ini membunuh inisiatif dari akar rumput.
Lalu, sebagai orang tua, kita cuma bisa pasrah? Nggak juga. Tapi kita harus realistis. Sekolah mungkin nggak bisa cepat berubah. Tapi kita bisa melengkapi.
Common Mistakes Orang Tua:
- Hanya Mengejar Nilai Akademik Semata: Terobsesi pada ranking dan nilai ujian, sehingga ikut mendorong anak fokus hanya pada yang diuji. Itu sama saja memperkuat sistem yang rusak.
- Menganggap Semua “Ekstrakurikuler Teknologi” itu Relevan: Memasukk anak ke kelas coding basic yang mengajarkan syntax Python kuno, tapi tidak mengajarkan problem-solving atau logic berpikir komputasional. Cari yang fokus pada konsep, bukan sekadar tools.
- Pasrah Sepenuhnya pada Sistem Sekolah: Berpikir, “Ah, nanti juga di kuliah akan diajarin yang baru.” Itu anggapan yang berbahaya. Fondasi cara belajar dan rasa ingin tahu dibentuk sejak dini. Kalau fondasinya salah, susah diperbaiki.
Tips Praktis untuk Orang Tua di Tengah Sistem yang Usang:
- Kenalkan “Problem-Based Learning” di Rumah dengan Isu Nyata: Ajak anak diskusi dan cari solusi untuk masalah sehari-hari. Misal: “Bagaimana caranya mengatur uang jajan agar cukup sebulan?” atau “Menurutmu, bagaimana cara mengurangi sampah plastik di sekolah?” Ini melatih critical thinking, research, dan presentation skill—yang nggak diajarkan di sekolah.
- Jadikan Internet sebagai “Laboratorium”, Bukan Sekarang “Sumber Contekan”: Arahkan anak untuk menggunakan YouTube, kursus online gratis, atau forum untuk memecahkan proyek, bukan sekadar cari jawaban PR. Misal, “Kita mau bikin poster acara keluarga. Coba cari tutorial Canva, lalu kita buat bersama.” Ini mengajarkan learning how to learn.
- Bangun Jejaring dengan Orang Tua Lain & Dorong “Inisiatif Guru”: Bersatu dengan komite sekolah atau grup orang tua untuk mendukung inisiatif guru yang progresif. Bisa dengan menggalang dana untuk workshop guru, atau mengizinkan anak mengikuti proyek kolaboratif lintas kelas yang keluar dari kurikulum baku. Beri ruang pada guru yang mau berinovasi.
Kurikulum usang 2026 adalah cermin dari sistem yang takut pada ketidakpastian. Dia memilih untuk mengajarkan apa yang sudah diketahui, daripada membekali anak untuk menghadapi apa yang belum diketahui.
Tugas kita sebagai orang tua bukan mengganti sekolah. Tapi menjadi “kurikulum hidup” yang melengkapi dan kadang, membetulkan arah. Karena masa depan anak kita terlalu berharga untuk hanya dititipkan pada peta yang jelas-jelas salah.
Mereka nggak butuh diajari cara mengisi formulir lamaran kerja. Tapi cara menciptakan pekerjaannya sendiri. Masih mau nurutin sistem usang?